Hindari Pemikiran dan Pemahaman Sempit, Ngaji Harus Tuntas

Saat ini fenomena ustaz dadakan bermunculan. Melalui perkembangan teknologi, berupa internet dan media sosial, masyarakat dibingungkan dengan mana ustaz asli dan mana ustaz instan.

Kondisi ini pun melahirkan tipikal masyarakat yang mudah terpengaruh dengan ceramah-ceramah ustaz yang mendadak terkenal melalui media sosial.

Pengaruh tersebut di antaranya dapat dirasakan dari mudahnya masyarakat termakan hoaks dan ujaran kebencian, tidak bersikap moderat, tidak toleran, dan mudah tersulut dengan berita-berita yang tidak jelas sumbernya di media sosial. Kondisi ini menjadikan masyarakat memiliki semangat beragama namun keropos nilai agamanya.

Terkait dengan hal ini, Kiai Anas Mawardi dalam forum pengajian rutin kitab Kifayatul Atqiya’ yang diselenggarakan di Masjid KH Moh Said Pondok Pesantren PPAI An-Nahdilyah, Kepuh, Karang Ploso, Malang, Jawa Timur mengatakan bahwa dalam belajar agama harus paripurna.

“Kita ngaji hadits, harus sampai khatam. Dan senantiasa belajar dan membaca kitab yang banyak. Gunanya apa? Sebagai muqabalah (perbandingan) satu sama lain.” kata kiai yang biasa disapa Ustadz Anas itu, Sabtu (30/8).

Ia menambahkan bahwa seseorang yang belajar di pesantren selalu ditekankan untuk berperilaku moderat, toleran dan berjiwa literasi. Berperilaku moderat dan toleran ditunjukkan dengan sikapnya yang adaptif terhadap kondisi sosial masyarakat sekitar. Jiwa literasi santri ditunjukkan dengan sikap santri yang selalu belajar.

“Ketika kita sudah mempelajari dan membaca berbagai referensi dan memahaminya, maka kita akan menjadi bisa menghormati pendapat orang lain. Tidak merasa benar sendiri.” katanya di hadapan ratusan santri dan Alumni yang hadir.

Selain itu, kiai yang juga alumni Pesantren Lirboyo itu menjelaskan, dengan senantiasa belajar, santri akan senantiasa akan mengerti dan menghormati pendapat orang yang berbeda. Dengan kata lain, akan menumbuhkan sikap terbuka akan perbedaan pendapat.

Mengaji yang tidak tuntas lanjutnya, cenderung membawa kepada pemikiran yang sempit dan ekstrem. “Mengaji itu harus tuntas. Karena kalau tidak, kita akan mudah berfikir ekstrem,” tegasnya. (nuonline).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *