Memaknai Idul Fitri

Cukup sering kita dengar orang mengatakan “Idul Fitri” artinya “kembali ke fitrah”, “kembali suci”, “kembali bersih”, atau makna lain yang serupa.

Tapi, tepatkah arti itu?

Memang, apa sebenarnya arti kata “idul fitri”?

Kata “Idul Fitri” terdiri dari dua kata: “Al-id” dan “al-fithr”.

“Al-id” artinya “hari raya”.

Dalam kamus “Lisan al-Arab”, Ibnu al-Mandzur (abad ke-8 H) mencatat cukup banyak keterangan terkait kata “al-id”.

Antara lain:

Al-‘Id kullu yaumin fihi jam’un.

Al-‘id artinya adalah tiap-tiap hari ketika diadakan kumpul-kumpul.

Wa isytiqaquhu min ‘ada-ya’udu. Ka annahum ‘adu ilaihi.

Akar kata al-‘id adalah ‘ada-ya’udu, yang berarti “perihal kembali”. Seakan memberikan makna, “orang-orang kembali ke hari itu untuk berkumpul”.

Wa qila isytiqaquhu min al-‘adah, liannahum i’taduhu.

Ada yang mengatakan, akar kata al-‘id adalah al-‘adah, yang berarti “tradisi”, “kebiasaan”. Sebab, “masyarakat menjadikan hari itu sebagai tradisi”.

Keterangan lain, masih dalam Lisan al-Arab, menyatakan:

Sumiya al-‘id ‘idan liannahu ya’udu kulla sanatin bifarahin mujaddadin.

Hari raya disebut ‘id sebab ia selalu kembali setiap tahun dengan membawa kebahagiaan baru.

Nah, dalam tradisi Indonesia, saat Idul Fitri, orang-orang pada mudik, kembali ke kampung untuk lebaran, berkumpul bersama keluarga. Dan itu menjadi tradisi kita. Tradisi nasional. Dan, pada hari itu, orang-orang bergembira, berbahagia.

Jadi, mudik lebaran adalah bentuk kesesuaian antara makna kata “al-‘id” dengan realita.

Realita mudik lebaran dalam tradisi Indonesia adalah penjelasan yang paling mendekati akurat untuk makna “al-‘id” dalam bahasa Arab.

Jadi, secara singkat, “al-‘id” artinya: hari raya, sebuah tradisi tahunan, saat orang-orang berkumpul dan berbahagia.

Berikutnya adalah kata “fitri” dalam “idul fitri”.

Kata Fitri—dalam bahasa Arab: al-fithr—adalah lawan kata al-shaum (naqidh al-shaum—antonim kata “shaum”). Artinya “makan untuk berbuka berpuasa”.

Jadi, “fitri” atau “al-fithr” itu berbeda dengan kata “al-fithrah” atau “fitrah”.

Fitrah atau al-fithrah secara bahasa artinya “tabiat dasar setiap makhluk pada awal penciptaan”. Al-fitrah Juga berarti: “Tabiat/karakter yang masih bersih dan belum tercampur aib” (al-Thabi’ah al-salimah lam tyusab bi ‘aibin).

Jadi, “fitri” dan “fitrah” (al-fithr dan al-fithrah) adalah dua kata berbeda yang maknanya juga berbeda.

Itulah arti kata “al-id” dan “al-fithr” dalam bahasa Arab.

“Al-id” artinya “hari raya”. “Al-fithr” artinya “makan/makanan berbuka puasa”.

Jadi, secara bahasa atau secara harfiah, “idul fitri” artinya adalah “hari raya makan-makan”–bisa dibilang begitu. Sebab, saat Idul Fitri, Anda dilarang berpuasa. Haram hukumnya berpuasa saat idul fitri.

Sedangkan, secara istilah, “Idul Fitri” tentu saja artinya “hari raya kaum muslim yang jatuh sehari setelah Ramadan usai”.

Itulah makna Idul Fitri, baik secara harfiah maupun secara istilah.

Jadi, kembali ke pertanyaan awal: tepatkah “Idul Fitri” diartikan dengan “kembali ke fitrah”, “kembali suci”, “kembali bersih”, atau makna lain yang serupa?

Ya boleh-boleh saja Anda berfilosofi bahwa “Idul Fitri” adalah “kembali ke fitrah”, “kembali suci”, “kembali bersih”, atau makna lain yang serupa.

Tapi, jika pemaknaan filosofis itu berangkat dari makna kata “idul fitri”, pemaknaan itu jadi rapuh. Tidak tepat. Tidak nyambung. Tidak cocok. (Juman Rofarif).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *