Tata Cara Berpendapat

Banyak orang berpendapat. Berpendapat itu bebas. Sayangnya, banyak orang salah memaknai kata “bebas” ini. Bebas itu artinya setiap orang boleh berpendapat. Tapi bukan berarti ia boleh ngawur. Bukan pula berarti setiap pendapat harus dihormati meskipun ngawur. Berpendapat itu ada tata tertibnya. Tanpa tata tertib, pendapat bisa menjadi provokasi, agitasi, penghinaan, dan sebagainya.

Bagaimana tata caranya?

Pertama, biasakan untuk membedakan antara fakta dengan pendapat. Banyak orang yang salah kaprah, mengira pendapat dia adalah fakta. Sebaliknya ada pula yang mengira fakta itu pendapat. Saya akan beri contoh.

“Suhu udara di Jakarta saat ini 35 derajat celcius.” Itu seharusnya pernyataan yang merupakan fakta. Itu bukan pendapat. Dalam hal ini kita harus menguji, apakah fakta itu benar atau tidak. Bagaimana mengujinya? Ukur suhu udara. Atau, cari sumber lain yang menyajikan data tentang suhu udara, apakah sama atau tidak.

“Udara di Jakarta saat ini panas.” Itu penyataan pendapat. Kita tidak bisa menyebut pernyataan itu sebagai fakta, karena tidak ada standarnya. Panas dan dingin itu sesuatu yang relatif. Karena relatif maka manusia menciptakan satuan pengukuran, agar tidak terjadi simpang siur.

Kedua, fakta yang dipakai harus sahih. Bagaimana kesahihan fakta diuji? Sumbernya harus sahih. Ada berbagai jenis sumber. Yang utama, kita menghasilkan data sendiri. Misalnya, untuk suhu udara tadi, kita melakukan pengukuran sendiri. Tapi ingat, data yang kita hasilkan sendiri pun belum tentu sahih. Kalau saat tengah malam dan hujan lebat Anda mendapatkan hasil pengukuran suhu udara Jakarta 35 derajat celcius, Anda harus mencurigai data itu.

Sumber lain adalah sumber yang berwenang dan kredibel. Untuk data cuaca yang paling berwenang dan kredibel adalah BMKG. Maka kita boleh percaya data BMKG. Tapi itu pun tetap dengan kewaspadaan bahwa BMKG pun bisa jadi salah.

Ketiga, pendapat harus ada dasarnya. Dasarnya bisa berupa teori, data, fakta, dan juga pendapat orang lain. Kalau tidak ada dasarnya bagaimana? Itu akan jadi pernyataan yang tidak ada maknanya.

Pendapat harus nyambung dengan dasar yang dipakai. Kalau tidak nyambung, artinya pendapat itu ngawur.

Misalnya, seseorang berpendapat,”Udara di Jakarta saat ini panas.” Dasarnya apa? Suhu udara 35 derajat celcius. Kenapa suhu udara 35 derajat celcius itu bisa disebut panas? Karena sudah menurut pengalaman umum suhu setinggi itu membuat manusia merasa tidak nyaman. Atau, bagi orang-orang yang biasa tinggal di Jakarta suhu segitu sudah tidak membuat nyaman.

Bagaimana kalau ada yang berpendapat bahwa saat itu udara sangat dingin? Ya ngawur. Tapi kalau dia merasa dingin bagaimana? Itu adalah pendapat atau perasaan subjektif. Ia harus menandai subjektivitas di situ. Yang bisa ia katakan adalah,”Suhu udara sekarang 35 derajat celcius, bagi saya ini dingin.” Kalau pernyataannya seperti itu, boleh saja. Tapi kalau dia hanya menyatakan “udara dingin” padahal suhu udara 35 derajat celcius, maka dia membuat pernyataan ngawur.

Perlu pula dipisahkan antara fakta dengan asumsi, perkiraan, dan hal-hal lain yang bukan fakta. Misalnya, ada data yang mengatakan bahwa tahun 2019 ada 10 juta orang yang mudik dari Jabodetabek. Itu fakta. Mudik tahun 2020 belum terjadi, sehingga tidak ada fakta soal jumlah pemudik tahun 2020. Yang bisa kita katakan soal itu hanyalah asumsi atau perkiraan. Nah, membuat perkiraan ini pun harus ada dasarnya.

Di akhir tahun 2019, misalnya saat bulan November, ada orang yang mengatakan jumlah pemudik tahun 2020 adalah 11 juta. Perhatikan bahwa pernyataan itu adalah perkiraan. Apa dasar untuk membuat pernyataan itu? Kenapa ada kenaikan 10%? Itu harus ada dasarnya. Misalnya, karena jalan tol sudah lancar, minat orang untuk mudik meningkat. Peningkatan 10% masih bisa disebut wajar.

Tapi kalau ada yang bilang bahwa jumlah pemudik akan menjadi 25 juta, kita bisa katakan itu ngawur. Kenapa? Karena tidak ada dasar yang logis. Apalagi kalau orang mengatakan, jumlah pemudik dari Jabodetabek tahun 2020 adalah 100 juta, kita bisa pastikan itu ngawur, karena jumlah penduduk Jabodetabek tidak sampai segitu.

Dari uraian itu kita bisa simpulkan bahwa dasar untuk berpendapat itu ada 2, yaitu informasi (data, fakta) dan nalar (asumsi, prediksi, alur logika). Informasinya harus sahih, nalarnya juga harus sehat. Barulah diperoleh pendapat yang benar. Tanpa itu pendapat hanyalah jadi pendapat yang ngawur.

Bagaimana pendapat bisa berbeda? Bisa saja. Kalau informasi yang dijadikan dasar berbeda, maka pendapat bisa berbeda. Demikian pula nalarnya. Asumsi yang berbeda menghasilkan pendapat yang berbeda. Tapi ada perbedaan yang bisa ditolerir, ada yang tidak. Pendapat ngawur tanpa dasar tidak bisa dihargai sebagai perbedaan. (Kang H Idea).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *