Sebenarnya, untuk Apa sih Kita Sholat?

Setelah proses negosiasi yang panjang, akhirnya Barshisa, si ahli ibadah yang telah beribadah ratusan tahun tanpa sekalipun maksiat itu, menerima “tantangan” dari ahli ibadah pendatang yang ketenangannya dalam beribadah membuat Barshisa penasaran. Semua orang tentu ingin taraf ibadahnya senantiasa meningkat, begitu pula Barshisa. Tantangan tersebut berupa mencicipi maksiat, seperti yang telah dilakukan si pendatang, dengan tujuan agar ibadah yang dilakukannya terasa lebih khusyuk dan nikmat. Demikianlah saran dari si pendatang yang sebetulnya jelmaan iblis itu.

Singkat cerita, setelah melaksanakan sesuai apa yang disarankan, akhirnya Barshisa terjerembab dalam tipu daya Iblis yang sementara waktu berubah wujud itu. Setelah percobaan maksiat-nya yang pertama, alih-alih merasakan ibadah yang lebih nikmat seperti yang dipromosikan, ia malah terkena godaan untuk meneruskan maksiat-nya yang ke-dua, lalu ke-tiga, dan seterusnya. Hingga pada puncaknya, ketika disalib sebagai hukuman dari hakim sebab pelanggarannya, ia bersujud dengan cara isyarat kepada Iblis sebagai jaminan agar ia diselamatkan dan turun dari salib itu. Namun takdir berkata lain. Hidupnya berakhir, sebelum tubuhnya diselamatkan Iblis, dengan ending bersujud isyarat kepada Iblis. Dan, kita tahu, ending cerita sangat menentukan kisah selanjutnya.

Kisah dengan versi yang lebih panjang tentang Barshisa ini bisa kita baca di buku 101 Cerita: Penegak Iman Peluhur Budi, karya KH. M. Jamaluddin Ahmad.

Jika ditelisik, kisah di atas sungguh menohok, terutama bagi kita yang dalam menatap kesuksesan dunia, apalagi di akhirat yang hanya mengandalkan amal perbuatan saja. Karena andai amal perbuatan bisa dijadikan “proposal” kesuksesan akhirat, tentu Barshisa yang telah beribadah ratusan tahun tanpa maksiat lebih berhak mendapatkannya. Hanya saja persoalan surga-neraka tidaklah sejelas apa yang tampak di permukaan.

Kalau bukan amal, lalu apa yang bisa kita andalkan? Lantas apakah kita tidak perlu beramal?

Dalam hal ini, sebetulnya kita perlu sedikit ”moderat”. Dalam artian tidak terlalu  ke kanan, dengan tidak menganggap bahwa segalanya akan ditentukan seberapa lama sholat kita, seberapa banyak kuantitas sedekah kita. Dengan kata lain, ia hanya mengandalkan amal perbuatan saja. Begitu juga tidak terlalu ke kiri, dengan tidak hanya menunggu takdir bekerja. Biasanya golongan seperti ini akan meremehkan segala amal perbuatan, dengan dalih jika memang akan dijadikan orang yang beruntung tentu kita akan beruntung tanpa perlu beramal banyak-banyak. Pun sebaliknya, buat apa sholat lama-lama jika pada akhirnya menjadi orang yang celaka.

Sekali lagi, kita perlu moderat. Moderat disini, sederhananya, bisa diartikan tetap melakukan ibadah sebaik-baiknya, semampu-nya, tetapi merasa bahwa ibadah ini hanyalah anugerah Allah, yang tidak bisa menjamin bisa mengantarkan ke surga menjauhkan dari neraka, kecuali dengan Rahmat-Nya.

Lalu buat apa kita beribadah, atau lebih spesifik untuk apa kita sholat, jika tak bisa menjamin apa-apa?

Ada teladan yang menarik dari panutan kita, Nabi Muhammad SAW. Sebagaimana kita tahu, beliau adalah kekasih Allah, pemimpin umat manusia sejak zaman awal sampai akhir, orang yang namanya bersanding dengan asma Allah di arsy sana. Jangankan masuk surga, beliaulah yang kelak akan memberikan pertolongan kepada umatnya untuk masuk surga, bahkan menjadi pemimpin dari golongan para penolong ini (Sayyid as-Syufa’a). Dengan melihat ini, tentu beliau sudah dijamin masuk surga. Tetapi ternyata, ketika di dunia, diceritakan Rasulullah adalah orang yang sangat gemar beribadah. Terutama melakukan sholat malam. Bahkan karena lamanya beliau dalam sholat, kaki beliau sampai bengkak.

Suatu ketika Aisyah menanyakan hal itu kepada Rasulullah. Mengapa beliau berlama-lama melakukan sholat, sedangkan beliau adalah Pemimpin umat, sudah dijamin masuk surga. Dan jawaban Rasulullah begitu hebat dan patut dijadikan teladan :

“Afalậ akữnu ‘abdan syakữron?”

(apakah aku tidak boleh menjadi hamba yang sangat bersyukur?)

Wal hasil, sudahkah kita bersyukur hari ini?.

(Achmad Zamzama).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *