Menjadi Pemain, Bukan Hanya Penonton

Mahasiswa dan santri hendaknya menjadi pemain, bukan sekedar hanya penonton. Pernyataan itu sering diucapkan Romo Kiai Sholeh Bahruddin dalam beberapa kesempatan. Salah satunya, ketika pembukaan Orientasi mahasiswa baru Universitas Yudharta Pasuruan.

Sejujurnya, hampir dalam berbagai hal agaknya kita lebih suka menjadi penonton daripada menjadi pemain. Kenapa? Karena untuk jadi pemain, kita harus bersusah payah dan membutuhkan pengorbanan besar yang tentu juga melahkan. Sementara untuk menjadi penonton, kita tak perlu repot-repot sebagaimana menjadi pemain.

Jadi pemain harus siap dikritik, dicela atau bahkan diejek habis-habisan, sementara jika jadi penonton kita malah bisa mengkritik, mencela dan mengejek. Sudah menjadi hal yang jamak, jika pemain selalu di pihak yang salah dan penonton selalu berada di pihak yang benar.

Itu sebabnya terkadang kita lebih suka jadi penonton daripada pemain. Tak perlu susah-susah, cukup dengan tepuk tangan kalau baik, suit-suit kalau menarik, mengumpat kalau yang dilihat tidak seru dan teriak huuu…huuu… kalau ada pemain yang melakukan kesalahan.

Yang menjadi pembeda dikeduanya adalah: pemain sedang berusaha mencetak sejarah, tetapi penonton hanyalah saksi dari sejarah. Pemain selalu lakukan tindakan (action), sedang penonton berkata-kata tanpa tindakan nyata. Bahkan, realitanya setiap ejekan, cibiran, hinaan serta komentar penonton tidak menunjukkan bahwa penonton lebih baik dari pemain.

Perlu diingat, mengkritik memang jauh lebih mudah dilakukan daripada berbuat. Namun, orang yang selalu mengkritik dan memberikan komentar negatif akan tetap selalu menjadi seorang penonton di sepanjang hidupnya. (ingat itu!)

Setiap dari kita telah diamanahi sejumlah talenta. Jadi tak ada lagi dalih yang membenarkan kita hanya duduk-duduk manis dan menjadi pengamat (penonton) saja di bumi Pasuruan ini.

Waba’du. Dari kutipan dawauh di atas, Romo Kiai Sholeh Bahruddin menghendaki agar kita turut dalam bertanding (menjadi pemain). Bukan menjadi pengamat sejarah (penonton) ataupun saksi sejarah, tapi kitalah orang-orang yang senantiasa mengukir sejarah.

Semoga, setelah kita merasakan jadi pemain, maka sifat (mental) kita sebagai seorang penonton yang kerap penuh dengan kritik negatif akan berhenti dengan sendirinya. Karena kita tahu bahwa menjadi pemain ternyata jauh lebih sulit daripada jadi penonton! Amiin…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *