Pemimpin itu Gembala

Dalam konteks kepemimpinan, Kanjeng Nabi Muhammad memberikan amsal melalui dawuh “kullukum ra’in, wa kullukum mas’ulun ‘an ra’iyyatihi?”. Nah, kenapa Nabi secara jelas menggunakan menggunakan kata ‘ra’in untuk mendeskripsikan pola kepemimpinan?

Padahal banyak redaksi dalam bahasa Arab yang bisa menggambarkan tentang pemimpin. Seperti, rais, mudir ataupun za’im. Dan ra’in sendiri memiliki makna (wongkang angon—gembala.red).

Romo Kiai Sholeh Bahruddin memberikan penjelasan berlanjut, bahwa sejatinya pemimpin itu memang seperti penggembala. Layaknya menggembala kambing, sapi, bebek maupun yang lainnya.

“Penggembala itu harus fleksibel. Tidak bisa hanya di depan saja atau hanya di belakang maupun di tengah-tengah saja. Menggembala sapi, kok hanya dipengang di depan saja, misalnya. Memangnya  mau disembelih? Apa mau dibawa ke pasar untuk dijual?. Jadi pemimpin itu memang harus dinamis, bisa memposisikan diri. Kapan saatnya pemimpin itu harus di depan, di tengah dan bahkan di belakang. Penggembala jelas mengikuti apa yang digembalakan,” jelas Beliau.

Setidaknya, konsep kepemimpinan ra’in ini memiliki tiga nilai penting di dalamnya. Sebagaimana prinsip kepemimpinan tersebut diajarkan Ki Hajar Dewantara. Yakni, ing ngarsa sung tuladha (Jika di depan memberi teladan), ing madya mangun karsa (Di tengah membangun kehendak/visi) dan tut wuri handayani (Di belakang memberikan dorongan/motivasi).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *