Memahami Politik Kebangsaan Kiai Sholeh Bahruddin

“Masio aku yoo nganggo politik. Cuman politik kebangsaan dudu politik praktis (kekuasaan atau saling blok). Tegese, politik sing ngerangkul semua golongan, baik suku, ras, agama dan lain sebagainya,” dawuh Romo Kiai Sholeh Bahruddin dalam beberapa kesempatan, salah satunya dalam momentum Reuni Nasional Perdana Iksan Ngalah, 2010 dan kedua 2015 silam.

Dawuh tersebut sebagai penegas, bahwa beliau mengejawantahkan prinsip ‘mengayomi’ semua golongan. Tujuannya untuk kemaslahatan dan kerukunan antar semua golongan.

Mengapa politik kebangsaan? Romo Kiai menilai bahwa kebangsaan itu adalah nilai nilai yang tertuang dalam Agama dan itu berkaitan dengan akhlak. Akhlak merupakan manivestasi dari Tauhid.

Nilai akhlak yang utama adalah kesediaan menjaga konsesus (kesepakatan) yang dibuat dalam komunitas (termasuk dalam hal ini, Negara!).

Apapun agamanya mengajarkan untuk menjaga komitmen atas konsesus yang dibuat. Apapun itu; berkeluarga, berteman, bekerja, berbisnis, apalagi berbangsa dan bernegara, orang melihat kita punya nilai adalah karena kita memegang teguh komitmen atas konsesus yang dibuat.

Konsesus bernegara itu adalah Pancasila. Sehingga, jika ada orang atau kelompok yang ingin mengubah paham Pancasila, maka dia keluar dari komitmen. Tentu agamanya dipertanyakan, apalagi akhlaknya.

Waba’du, politik kebangsaan itu bagaimana upaya untuk berkomitmen mempertahankan Pancasila dan tentunya NKRI. Wallahua’lam. (*).

****

Oleh: Arif H. Ayik | Alumni Universitas Yudharta yang Biasa Saja

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *