Menjadi Guru yang Sesungguhnya

Dalam beberapa kesempatan, terutama pada momentum tahun akademik (ajaran) baru sekolah. Romo Kiai Sholeh Bahruddin kerap kali memberikan mauidhoh.

Salah satu dari sekian nasehat yang familiar adalah tentang syarat-syarat dasar menjadi Santri (siswa), Guru dan Kiai.

Romo Kiai Sholeh Bahruddin menyebut, syarat (baca: paling mendasar) menjadi santri (siswa): “Kudu Istiqomah”. Artinya, segala aturan yang ada di pondok (atau sekolah) itu harus ditaati, diikuti secara rutin atau terus-menerus dan dipatuhi dengan sepenuh hati, jangan sampai dilanggar.

Sedangkan untuk menjadi Guru (Ustadz) dibutuhkan dua syarat mendasar, yaitu istiqomah (konsisten) dan uswatun khasanah (teladan yang baik).

Istiqomah yang dimaksud adalah guru harus bisa menempatkan dirinya, tidak boleh seenaknya saja dan harus mentaati peraturan yang ada secara rutin dan terus menerus.

Istiqomah berkaitan dengan profesionalisme diri seorang guru.

Sedangkan uswatun khasanah, berarti seorang guru harus memberikan suri tauladan yang bagus dalam segala tindakan baik itu melalui akhlak, sopan santun, ucapan dan perbuatannya. Karena guru itu di-“gugu lan ditiru”, hal ini mengindikasikan bahwa uswatun khasanah juga berkaitan dengan penguasaan ilmu pengetahuan.

Sehingga teladan dimaknai sebagai skill pendidikan yang berorientasi pada moral yang baik, dengan megedepankan contoh sikap, sifat dan ucapan yang baik. (*).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *