Sosok yang Menginspirasi Berdirinya Yudharta


Syahdan, sejak sekitar tahun 2000 hingga hampir di penghujung 2001, Mbah Nyai Hj. Siti Shofurotun (almarhummah Ibunda Romo Kiai Sholeh Bahruddin) kerap menjumpai santri putri yang berpamitan untuk ‘boyong’ (pulang ke rumah karena sudah lulus sekolah/mondok) dengan alasan ingin melanjutkan kuliah di perguruan tinggi.

Padahal, di Pondok Pesantren Ngalah saat itu sudah ada Sekolah Tinggi Agama Islam Sengonagung (STAIS) dengan dua program studi, yaitu Pendidikan Agama Islam dan Pendidikan Bahasa Arab. Sehingga Mbah Nyai Siti merasa ada sesuatu yang ‘ganjil’ dari fenomena tersebut.

“Arep ning endi tho nduk, kok boyong?,” (Mau kemana, kenapa pulang Nak?), tanya Mbah Nyai Siti, ketika ada santri putri yang lulus MA/SMA berpamitan kepada beliau untuk boyong (tidak lagi mondok).

“Badhe nerusaken kuliah teng Malang, Mbah,” (Mau meneruskan sekolah, kuliah di Malang Mbah), jawab santri tersebut dengan sopan.

“Lho, mbok ngelanjutno kuliah ning kene wae (baca: STAIS) tho, nduk,” (Melanjutkan kuliah di sini kan bisa, Nak?), saran Mbah Nyai dengan penuh harap.

“Inggeh, namung teng mriki mboten wonten jurusan ingkang badhe dikersaaken, Mbah. Teng STAIS namung wonten kale jurusan, niku sedoyo pendidikan, ” (Bisa, tapi di sini belum ada jurusan atau program studi yang kami kehendaki, Mbah. Di STAIS hanya ada pendidikan saja), santri Putri itu mencoba memberikan jawaban atas saran Mbah Nyai.

“Oalaaah, iyo wes nduk… sing ati-ati, tak dungakno hasil maqsud, lan mugo-mugo manfaat barokah,” (Oh begitu, baiklah Nak, saya doakan semoga berhasil, dapat memperoleh manfaat dan keberkahan), harap Mbah Nyai.

Dialog pamitan santri putri seperti di atas sering terjadi. Jika tidak kuliah di Malang, beberapa santri pamit untuk kuliah di Surabaya dan kota-kota besar lainnya. Hampir di saat Mbah Nyai Siti menanyakan alasan boyong kepada santri Putri, jawaban yang sama kerap beliau dengar. Hingga suatu ketika, Mbah Nyai Siti memanggil Romo Kiai Sholeh Bahruddin.

“Sholeh, iki ono pirang-pirang santri sing pamit boyong jare kate nerusno kuliah gek njobo, ono sing gek Malang, Suroboyo lan sak piturute. Polae gek kene jare mek ono rong jurusan tok. Tulung santri-santri iku layanono, mosok ngelayani santri ae gak iso?,” (Sholeh, akhir-akhir ini ada beberapa santri putri yang pamit pulang untuk melanjutkan kuliah di luar. Ada yang ke Surabaya, Malang dan beberapa kota besar lainnya. Alasannya, karena di STAIS hanya ada dua jurusan saja. Mohon bisa diakomodir dan dilayani santri-santri itu, apa tidak bisa melayani santri seperti itu?), tanya Mbah Nyai.

“Tulung gawekno sekolah (Perguruan Tinggi) sing akeh jurusane, cek gak tarbiyah, pendidikan tok ae. Arek-arek cek iso terlayani. Mosok ngeladeni santri gak iso?,” (Tolong upayakan buat kampus yang yang memiliki jurusan bervariasi. Biar tidak hanya agama dan pendidikan saja. Apa susahnya melayani santri seperti itu?), tambah Mbah Nyai.

“Dos pundi tho, Mak? Ngoten niku nggeh, mboten gampil. Mboten cekap namung ilmu thok, Mak. Tapi sak duwite lek niku,” (Bagaimana ibu ini? Terkait pendirian perguruan tinggi semacam itu tidaklah mudah. Tidak hanya mengandalkan ilmu pengetahuan saja, Bu. Melainkan sekaligus modal uangnya yang tidaklah sedikit), jawab Romo Kiai Sholeh Bahruddin penuh tawadhu’.

“Iso… iso… awakmu kudu iso! Awakmu iki anak’e Kiai, Bapakmu yo Kiai, Mbah-Mbahmu yo Kiai. Dadi kudu iso. Ndang gawekno wes, aku sing ndungo…” (Bisa, kamu harusnya bisa! Kamu ini keturunan kiai, Bapakmu kiai, kakekmu juga kiai, jadi harus bisa. Sudah, segera buat dan dirikan Universitas, biar Ibu yang berdoa), tegas Mbah Nyai meyakinkan Romo Kiai Sholeh Bahruddin.

“Inggeh… Mak, pangestune…” (Baik, Bu. Mohon berkah doanya), kata Romo Kiai Sholeh Bahruddin dengan lirih namun mantab.

Setelah ‘titah’ dari Mbah Nyai tersebut, Romo Kiai Sholeh Bahruddin dengan segala daya upaya berusaha mewujudkan pengharapan dari Sang Ibunda. Tak lain hanya untuk melaksanakan amanah sekaligus permintaannya.

Ikhtiyar dan usaha yang dilakukan oleh Romo Kiai Sholeh Bahruddin dalam rangka ‘birrul walidain’ untuk mendirikan perguruan tinggi dengan banyak jurusan akhirnya menemukan ujungnya. Alhamdulillah, tepat sekitar enam bulan dari titah Sang Ibunda, berdirilah dengan resmi Universitas Yudharta Pasuruan dengan 15 Program Studi.

“Wonten’e Universitas Yudharta niki, nggeh hasil instruksi saking Ibu kulo. Nggeh, bidznillah, kulo niati birrul walidain ternyata proses enam bulan saget berdiri,”

(Berdirinya Universitas Yudharta itu hasil instruksi dari Ibu. Saya niatkan berbakti kepada orang tua. Atas pertolongan Allah, proses enam bulan mengurusi ijin ternyata bisa berdiri), sebagaimana cerita Romo Kiai Sholeh Bahruddin saat pengajian Seninan (3/10/2016) lalu.

****

Oleh: Arif H. Ayik | Alumni Universitas Yudharta yang Biasa Saja

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *