Menghidupkan Peradaban Mahasiswa

Permasalahan karakter bangsa saat ini banyak menjadi pembicaraan yang mana secara esensi muncul satu keprihatinan nasional tentang bangsa kita yang kurang memiliki ketangguhan karakter.

Sejenak kita menengok di dalam Pembukaan UUD 1945 bahwasannya kita ingin menjadi bangsa yang mampu “melindungi segenap bangsa Indonesia”, mampu “melindungi seluruh tumpah darah Indonesia”, bertekad untuk “mencerdaskan kehidupan bangsa” dan mampu pula “ikut melaksanakan ketertiban dunia”. Tersimpul dari sini suatu bentuk karakter nasionalistik, karakter cinta pada bangsa dan cinta pada Ibu Pertiwi sebagai warga Negara, sekaligus juga karakter bertanggung jawab global sebagai warga dunia.

Keberadaan Universitas Yudharta Pasuruan adalah turut serta untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, yang disertai juga dengan membentuk karakter nasionalistik yang tampak melalui jargon “The Multicultural University” menjadi salah satu “sekolah” yang tidak hanya mendidik untuk kepandaian dan keterampilan, namun terlebih penting dan primer melakukan pendidikan karakter.

Seorang pedagog dari Jerman yang bernama Foerster, mencetuskan dengan pendidikan karakter, mahasiswa akan memiliki ciri dasar. Pertama, keteraturan interior, dimana setiap tindakan diukur berdasar hierarki nilai. Nilai menjadi pedoman normative setiap tindakan.

Kedua, koherensi yang memberi keberanian, membuat seseorang teguh pada prinsip tidak mudah terombang-ambingkan situasi baru. Koherensi merupakan dasar yang membangun rasa percaya satu sama lain.

Ketiga, otonomi yaitu seseorang menginternalisasikan aturan dari luar sampai menjadi nilai-nilai bagi pribadi, dan ini dapat dilhat lewat penilaian atas keputusan pribadi tanpa terpengaruh atau desakan pihak lain.

Keempat, keteguhan dan kesetiaan. Keteguhan merupakan daya tahan seseorang guna mengingini apa yang dipandang baik, sedangkan kesetiaan merupakan dasar bagi penghormatan atas komitmen yang dipilih.

Implementasi di Kampus Yudharta
Secara konseptual empat komponen utama pendidikan karakter tersebut wajib bagi setiap dosen untuk mengimplementasikannya di Universitas Yudharta Pasuruan. Suasana pembelajaran yang mengundang mahasiswa menjadi penuh akan nilai-nilai kebajikan. Setiap tindakan terukur sesuai nilai dan norma etis hidup dan mencerahkan. Mengundang mahasiswa memiliki karakter teguh, berprinsip tidak terombang-ambing oleh nilai-nilai buruk yang terlihat secara riil di lingkungan, media massa, internet atau televisi. Mengundang mahasiswa agar memiliki komitmen tinggi akan tercapainya lingkungan masyarakat yang beradab. Mengundang mahasiswa memiliki karakter saling percaya dengan sesama.

Idealnya para dosen dan setiap komponen masyarakat kampus menghidupkan suasana yang berkarakter dan beradab di kampus. Universitas Yudharta Pasuruan menjadi miniatur peradaban yang mampu menjadi logosentrisme peradaban itu sendiri.

Sebagai miniatur peradaban yang meniscayakan pluralisme (kemajemukan), peradaban Universitas Yudharta Pasuruan mempunyai potensi kemajemukan seperti agama, sosial, etnis, adat-istiadat, gender dan status ekonomi. Para dosen pun diuji untuk menerapkan pola dan strategi pendidikan karakter yang belandaskan pluralisme dan multikulturalisme.

Dosen menjadi kunci utama implementasi pendidikan karakter di kampus, dengan menjadi “model” atau tauladan. Tujuan pendidikan nasional akan tercapai jika pendidikan karakter senantiasa berpijak bahwa kita memang dilahirkan berbeda (plural atau multikultur), namun segala perbedaan tersebut adalah sebagai penanda utama bahwa kita mutlak saling membutuhkan terhadap yang lain.

****

Oleh: Estalita Kelly
Dosen Fakultas Psikologi Universitas Yudharta Pasuruan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *