Membincang Islam Nusantara dari Yudharta

Kemunculan term dan konsep Islam Nusantara yang digagas Nahdlatul Ulama sejak 2015 lalu terus mendapatkan perhatian masyarakat luas bahkan dunia. Beragam respon terus berdatangan dari berbagai perspektif, bahkan tidak sedikit muncul kritik keras terhadapnya.

Dalam rangka lebih memperdalam dan menajamkan pemahaman terhadap Islam Nusantara, Universitas Yudharta Pasuruan (UYP), Pondok Pesantren Ngalah bersama LTMNU Jatim menggelar Lokakarya Internasional dan Pelatihan Metodologi Islam Nusantara. Kegiatan berlangsung sejak Rabu hingga Jumat (25-27/9/2019).

Salah satu pembicara inti dalam kegiatan tersebut Rais Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Australia-New Zealand (ANZ) Kiai Nadirsyah Hosen. “Pembahasan mengenai Islam Nusantara masih berlanjut hingga saat ini. Namun, dari semua itu hanya sedikit kritikan yang valid dan bisa dikaji secara akademik, termasuk di media sosial atau Medsos,” katanya di pembuka sesi Lokakarya.

“Ketika kita berbicara tentang Islam Nusantara, dan ini heboh di Medsos, yang mengkritik juga banyak, tapi sampai sekarang belum menemukan kritikan yang valid dan bisa dikaji secara akademik,” kata Gus Nadir, sapaan akrabnya.

Gus Nadir mengatakan bahwa sampai saat ini, semua kritikan yang ada hanyalah disebabkan karena ketidaktahuan dan kebencian terhadap Nahdlatul Ulama.

“Yang ada adalah kritikan karena ketidak tahuan plus kebencian terhadap Nahdlatul Ulama, sehingga yang ada adalah kritikan-kritikan yang sangat karikatural,” jelasnya.

Sejumlah komentar yang tidak dapat dipertanggungjawabkan dan hanya sekadar menyudutkan bisa dilihat dari komentar yang disampaikan berbagai kalangan.

“Misalnya, kalau Islam Nusantara berarti begitu shalat, mengakhiri shalat itu bukan dengan Assalamu’alaikum kanan kiri tapi selamat pagi, selamat pagi. Atau kalau meninggal kain kafannya bukan kain putih, tapi batik. Ini tidak ada yang dilakukan oleh para ulama kita,” urainya.

Dikatakan, atas penyebaran informasi palsu berupa kritikan yang sifatnya karikatural itu, banyak orang yang menjadi antipati terhadap Islam Nusantara.

“Itu yang disiarkan, yang dibicarakan sehingga orang antipati terhadap Islam Nusantara,” bebernya.

Ia kemudian mengisahkan bahwa sebelum kemunculan istilah Islam Nusantara, di tahun 60 hingga 70-an para ulama Indonesia sudah membahas apa yang disebut dengan fiqih Indonesia. Para ulama itu adalah Hazairin dan Hasbi Assiddiqi, penggagas masalah fiqih Indonesia.

“Jadi kalau dulu kita membaca ada Ahlul Kufah, Ahlul Hijaz. Jadi, barangsiapa yang membaca fiqih klasik itu selalu ada istilah Ahlul Kufah, Ahlul Hijaz, Ahlul Rayi. Lalu mengapa tidak ada fiqih Indonesia?,” kata Gus Nadir.

Dengan demikian, dalam pandangannya, bukan kemudian fiqihnya ditambah-tambahi, bukan kemudian mengakhiri shalat subuh dengan selamat pagi-selamat pagi. “Itu yang kita sebut sebagai fiqih Indonesia,” jelasnya.

Dosen Monash University Australia ini juga menyinggung mengenai salah satu ijtihad yang dilakukan oleh para ulama Nusantara, yakni dalam menerima Negara Kesatuan Republik Indonesia atau NKRI.

“Ketika para ulama menerima NKRI sebagai harga mati sebagai bentuk final, hal itu tidak usah dibantah dengan mengatakan mana ada di Al-Qur’an ataupun di hadits kalimat Negara Kesatuan Republik Indonesia? Itu tidak ada,” sergahnya.

Oleh karena itu, dirinya mengajak hadirin untuk mempelajari tarikh tasyri dan ushul fiqih dari mulai masa Nabi yang menerima lokalitas. Bagaimana konsep fiqih yang menerima lokalitas, bagaimana para ulama yang menjadikan adat atau urf itu sebagai salah satu sumber hukumnya.

“Sehingga ketika para ulama kita menerima NKRI sebagai harga mati, sebagai bentuk final itu tidak usah bingung karena ulama kita memahami tarikh tasyri’ dan ushul fiqih,” terangnya.

Menurutnya, kalangan yang menolak NKRI itu yang tidak paham tarikh tasyri dan ushul fiqih. “Mereka yang menolak Islam Nusantara itu tidak paham tarikh tasyri’ dan ushul fiqih,” ujarnya.

Di ahir paparan, Gus Nadir mengajak ratusan peserta yang memadati aula kampus Yudharta untuk bangga lantaran pesantren dan kampus bisa melakukan hal itu semua.

“Karena itu berbanggalah bahwa pesantren dan kampus kita di sini, kajian kitab turats, kitab kuningnya jalan, karena pesantren dan kampus ini lah yang akan menjadi benteng bagi NKRI,” tutupnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *